Discussion

Mitos Lorena

 

Saya pernah melihat Lorena di TV. Dia adalah seorang gadis tinggi yang cantik, tenang, mudah tersenyum, percaya diri dan bahagia sebagai seorang reporter. Suatu hari dia diundang dalam acara Talk Show untuk mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi para remaja berhadapan dengan orang tua mereka. Lorena berangkat dari pengalamannya.

Pada usia 17 tahun Lorena telah membunuh ibunya dengan seratus kali tikaman dan selanjutnya adik laki-lakinya yang tidak pernah berkata dan berprilaku buruk terhadapnya. Suatu tindakan sadis yang mengangkat Lorena menjadi seorang bintang, realisasi banyak anak remaja yang pada saat marah, mereka bisa berkata kepada ibu mereka: “Aku membencimu, aku ingin kamu mati!”

Lorena bisa menjadi mitos, karena dalam diri kita masing-masing terdapat kecendrungan yang sama. Jika tidak demikian, tidak mungkin ada orang yang gemar menonton film horror dan sinema laga. Saat menonton film laga secara natural kita langsung mengidentifikasi diri dengan tokoh tertentu yang seringkali dengan tujuan saleh melakukan pembunuhan lebih kejam dan lebih berutal. Dan kita merasa puas.

Dalam masyarakat kuno aksi-aksi kekerasan ditampilkan secara terbuka. Orang-orang Asiria Kuno memotong tangan dan kaki para tawanan selagi mereka masih hidup. Pertarungan berdarah dan mati-matian antara para gladiator dan singa-singa buas sangat digemari oleh jutaan orang Romawi Kuno. Attila, Gengis Khan dan Tamerlano meletakkan tengkorak-tengkorak para penjahat di atas piramid-piramid mereka. Akan tetapi masih banyak juga orang yang melakukan kejahatan-kejahatan yang sama.

Peristiwa dunia yang tidak pernah lekang dari ingatan kita adalah peristiwa Nazi yang menelan begitu banyak korban. Perang Dunia I dan Perang Dunia II yang menelan puluhan juta jiwa, lahir dari manusia-manusia yang ingin hidup tenang dan damai. Kekejaman beberapa tahun lalu di ex Yugoslavia membuat hati kita tertarik pada pertanyaan raksasa, dari siapa manusia belajar bertindak melanggar moral dan hukum. Kriminal-kriminal besar masih saja mendapat pengagum hingga sekarang.

Mitos mengisahkan kepada kita mengenai Medea, putri raja dari Colchide, yang membantu Giasone mencuri The Golden Plecce. Tetapi ketika berada di Korintus dia malah berniat menikahi sang putri dan membunuh saingannya. Kisah Ken Anggrok yang membunuh si pembuat pedang dan kemudian diikuti oleh sederetan peristiwa pembunuhan lainnya dalam sebuah kerajaan yang juga masih keluarga, tidak hanya mengandung pelajaran sejarah, tetapi juga memiliki arti psikologis yang amat mendalam.

Dari sudut pandang psikologi kita bisa melihat kecendrungan-kecendrungan manusia secara mendalam dari fenomena-fenomena sederhana. Sejak kecil kita sudah belajar menjadi seorang pembunuh, untuk tidak mengatakan kita lahir sebagai pembunuh. Seorang bayi berumur setengah tahun seringkali hanya akan berhenti menangis setelah ibunya memukul seseorang yang tadinya mencubit pipinya karena gemes.

Masih banyak peristiwa kekerasan lainnya bisa kita tambahkan di sini. Tapi yang mau saya garis-bawahi adalah bahwa kecenderungan ke arah kekerasan adalah salah satu sifat universal manusia yang sangat berbahaya. Dan tidak tertutup pada suatu pribadi atau bangsa tertentu. Dan kecenderungan inilah yang kiranya perlu disadari oleh seluruh rakyat Indonesia dan seluruh penduduk bumi.

Saya katakana bahwa Lorena adalah sebuah mitos. Lorena hadir dalam diri Kain yang membunuh saudaranya, Abel. Lorena muncul di Indonesia ketika Tibo dan kawan-kawanya harus dieksekusi. Lorena hadir juga dalam diri anda, dalam setiap Negara dan dunia. Anda harus berhati-hati, sebab dia bisa membunuh ibu anda, saudara anda, suami anda, istri anda dan semua orang yang anda cintai. Sebelum semuanya terjadi tidak ada langkah yang paling tepat yang bisa anda ambil selain membunuh Lorena dengan segera.

Sebuah keluarga harmonis, sebuah Negara dan dunia yang aman dan damai hanya akan tercapai kalau kita bersama-sama telah membunuh Lorena. Israel dan Palestina akan hidup berdampingan dengan damai apabila kedua negara ini bersama-sama menyerang dan membunuh Lorena. Lorena adalah musuh setiap orang, setiap Negara dan musuh dunia. Bagaimana caranya kita bisa membunuhnya?,  yakni dengan saling mengampuni, saling mencintai, saling menghormati dan saling menghargai satu sama lain. Apabila semuanya ini telah kita lakukan maka dunia akan damai. Apakah ini sebuah utopia?


5 Tanggapan to “Discussion”

  1. SEmoga masih ada hati nurani, kasih sayang dan cinta antara sesema manusia.
    😀

  2. kedamaian akan selalu terjaga ketika saling pengertian dan mencari manfaat, karena semua manusia pasti bermanfaat tinggal dari sudut mana melihatnya.

    Kekejaman akan hilang dengan sendirinya manakala kita berusaha untuk meraih kedamaian.

  3. oh ya sampai lupa, saya sangat merasa senang sekali apabila om jefry mo kasih saran or sbgnya

  4. Blogwalking aja, berbicara ttg universalitas, pluralitas, & humanitarian, kita berada di relung jiwa yg sama…

    “kebencian” apa yg sama tuanya dgn usia peradaban manusia?, kitab2 suci agama Islam, Katolik/Kristen, & Yahudi menyatakan; kebencian antara orang Arab & Yahudi, entah mengapa mrk saling membenci hingga saat ini, di suatu masa orang Arab di atas angin, di masa lain spt saat ini orang Yahudi yg di atas angin.

    Atas nama kemanusiaan, sebaiknya kitapun tidak terseret dalam opini salahsatu pihak yg bertikai, tapi kita menyerukan perdamaian untuk 2 keturunan anak cucu nabi Ibrahim ini, demi kedamaian di dunia ini.

    Karena kita semua, di luar jazirah timur tengah yg bergejolak itu, di luar tanah gaza, belajar mengenal & beriman kepada Tuhan, sesuai keyakinan masing2, justru dari mereka, bukankah begitu?

    Sekedar sharing saja, mohon maaf bila tidak berkenan.

    Thks
    Kang Deni
    http://www.deni-ds.com

  5. Menyikapi apa yang disampaikah oleh saudara Deni
    Saya berpendapat bahwa Perang dan kitab suci adalah dua hal yang berbeda. Apapun ceritanya, perang selalu mengarah kepada kehancuran, korban dan bencana kemanusiaan. Sementara kitab suci selalu mengajarkan perdamaian, cinta kasih dan keadilan. Timur dengah, Israel dan palestina berada dalam peperangan bukan karena perintah kitab suci, tapi karena keserakahan dan kebencian. Perang adalah perang. Kitab suci adalah kitab suci.
    Masalahnya adalah kedua negara itu adalah negara yang sangat religious, tempat agama-agama semit lahir. Tapi tempat ini tidak pernah lepas dari pengar. Jelas bahwa ini adalah sebuah paradox. Ini semacam kutukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: