Surat Seorang Sahabat

Seorang sahabat saya, Francesco, mengirimkan sepucuk surat ke e-mail saya yang diawali dengan sebuah pertanyaan: “Anton, apa yang kamu buat untuk menghadapi krisis global ini?” Selanjutnya dia menceritakan kepada saya bahwa dia baru saja menulis sebuah artikel yang berisikan tawaran kepada saudara-saudara sebangsanya dalam menghadapi krisis financial yang kini melanda dunia. Tawaran itu lebih menyoroti cara hidup mereka.

Menurut dia, ada sebuah aturan yang bisa diikuti oleh orang-orang Italia dalam menghadapi krisis ini, yakni menggunakan kesempatan secara maksimal penggilan hidup mereka, melakukan apa saja yang baik untuk dilakukan, dan melakukan apa saja yang paling disukai. Ini berlaku untuk semua orang, karena setiap orang memiliki panggilan khusus: ada yang tahu menggubah lagu, ada yang memiliki mentalitas saintifik, ada yang bisa melawak, ada yang bisa berperan sebagai bintang panggung, bercerita, menulis dan melukis. Selain itu, ada juga yang memiliki talenta di bidang sport dan  matematika.

Jika mereka masing-masing melakukan itu semua dengan baik, tanpa kenal lelah dan penuh keseriusan, maka akan terbentuk sebuah warga dengan memiliki kemampuan khusus. Menurut dia, orang-orang Italia memiliki semua itu. Mungkin, bagi banyak orang itu semua adalah omong kosong. Hal itu terutama bagi orang-orang yang berpikir bahwa bagaimana mungkin hal-hal sederhana seperti itu bisa menyelamatkan Italia dari krisis yang sedemikian parah. Tapi Alexandro segera menepis ketidakmungkinan itu dengan sebuah contoh.

Sudah menjadi cerita lama bahwa orang-orang Italia memiliki mentalitas hedonisme yang tinggi. Mereka suka makan, suka memasak di rumah dan makan bersama-sama di meja. Berangkat dari fenomena ini Fancesco mengajak saudara-saudaranya untuk berani bicara tentang makanan ini sama seperti mereka berbicara tentang sport. Meja makan bisa dilihat sebagai lapangan. Di dalamnya para wanita singel memperlangkapinya. Para orang tua menginginkan anak-anak mereka duduk makan bersama di meja yang sama. Semuanya adalah anggota. Tidak ada yang berperan sebagai penonton.

Beda dengan orang-orang Inggris dan banyak orang Amerika yang tidak memikirkan apapun. Mereka tidak memasak, masing-masing makan kapan dia suka. Dia membuka kulkas, mengambil sesuatu dari dalamnya dan memakan ice cream walaupun dingin. Hasilnya adalah bahwa orang-orang Italia menjadi terkenal ke seluruh dunia karena produk-produk masakan dan restoran-restoran mereka. Hal ini berawal dari rumah. Mereka bertahan di rumah untuk makan sedemikian lama, dan apa bila mereka  membeli sebuah mobil baru, maka dengan bangga mereka akan mengundang teman-temannya ke rumah untuk melihatnya, lalu akan melakukan makan siang dan makan malam bersama.

Orang-orang Inggris dan Amerika tidak melakukan hal-hal seperti itu. Hasilnya, orang-orang Italia mengekspor pasta dan mobil ke seluruh dunia. Mereka juga akan merasa bangga berpakaian indah dan saling memuji satu sama lain.”bagus sekali mantel ini, indah sekali gaun itu, dimana kamu temukan sepatu ini?” dan banyak pujian lainnya. Sebaliknya seorang Inggris, orang Jerman, orang Swedia, dan orang Amerka, tidak melakukan itu. Lihatlah bagaimana dunia sangat didominasi oleh model-model Italia. Lebih dari itu mereka memproduksi semua objek-objek ini, dan juga makanan serta mobil-mobil mereka ke seluruh dunia. Oleh karena itu, menurut Alexandro, orang-orang Italia harus merem selera makan dan selera bisnisnya untuk mengatasi krisis global yang kini semakin parah.

Kehadiran surat sahabat ini membuat saya berpikir, apa yang harus aku lakukan secara pribadi dan secara bersama-sama dengan seluruh rakyat Indonesia untuk menghadapi krisis ini. Satu hal yang aku yakini dengan pasti bahwa bangsa Indonesia juga ikut terlibat dalam krisis ini. oleh karena itu sudah saatnya kita juga mencari sebuah jawaban, apa yang harus kita buat secara pribadi dan bersama-sama untuk mengatasi krisis ini. Kita semua tahu bahwa setiap orang berpotensi untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik.

Grazie Francesco

About these ads

~ oleh weststella pada Februari 3, 2009.

2 Tanggapan to “Surat Seorang Sahabat”

  1. wah…benar sekali…

    apa kabar sobat? sudah lama tak sempat main kesini…thanks buat tips indahmu ini.

    Salam hangat dari jauh :)

  2. non ci credo!!!!!
    però….vabbè :)
    saluti

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: